Cerita kedua dengan ending yang saya dapat dari kritik, saran, cacian dan makian dari para penggemar, semoga berkenan

Nisa merasa dilema, terjebak di antara 2 pilihan, sahabat atau cinta. Kalaupun cinta, dia sendiri masih belum berpikir untuk dekat apalagi berpacaran dengan siapapun terutama andi. Apakah memilih sahabat? apakah pengorbanannya untuk tia pantas dia dapatkan. Tapi satu yg slalu dia ingat apa yg diajarkan orang tuanya, berusaha selalu jujur walaupun itu pahit, walaupun itu menyakitkan.

Saat jam istirahat, nisa ngobrol ringan dengan tia sampai nisa memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya. Nisa bilang kepada tia bahwa andi ingin dekat dengannya, ingin dekat lebih dari seorang teman. Tia diam, ekspresi wajahnya terlihat murka tetapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Entah kenapa tia tiba-tiba beranjak pergi tanpa kata, tanpa expresi, seperti buka tia yg sehari-hari. Nisa makin gundah, nisa takut akan menyakiti sahabatnya. Tapi dia kukuh bahwa apa kejujuran itu penting, dia siap menerima semua resikonya, walaupun untuk saat ini dia sangat berat merasakannya. Mungkinkah dia akan kehilangan tia? Bel pelajaranpun berbunyi. Entah knp tia tampak biasa saja, tp sorotan mata kepada nisa berbeda bahkan tidak ada satu katapun tercuap untuk nisa. Sampai akhir pelajaran dan waktunya pulang, suasana kelas masih ada beberapa anak terutama tia dan nisa. Nisa berniat memberanikan diri untuk minta maaf kepada tia. Belum sampai nisa berkata, tia memandang wajah nisa… Tia bilang kepada nisa kalau nantinya nisa dekat apalagi berpacaran dengan andi, tia rela asal nisa bahagia. Nisa bukannya senang tapi dia makin salah tingkah, gk tahu harus berkata apa, gk tahu harus bagaimana. Nisa cuman memandang kosong tia dan tia tersenyum kepada nisa, senyuman yang membuat nisa makin bimbang, dia tahu dalam hati tia pasti sakit tp apa tia mau berkorban demi dia.

Sampai di rumah Nisa cuman berpikir apa yg harus dia pilih. Apakah dia menerima pengorbanan tia untuk dekat dengan andi? Apakah justru nisa yg berkorban untuk menolak ajakan andi? Malam ini adalah malam terpanjang dalam hidup nisa, jam dan menit bahkan detik terasa sangat lambat bagi nisa. Tidak ada rasa ngantuk, jangankan untuk tidur, memejamkan mata saja berat buat nisa… Sampai akhirnya nisa punya keputusan yang menurut dia terbaik buat dia, sahabatnya dan Andi.

Keesokan paginya di sekolah saat jam istirahat. Andi tiba-tiba datang menemui nisa yang ada di perpustakaan sekolah. Andi menanyakan jawaban Nisa atas ajakan andi untuk dekat bahkan berpacaran dengannya. Diam sejenak nisa pun bilang kepada Andi bahwa dia … menolak ajakan andi untuk berpacaran tapi tidak untuk dekat, dekat sebagai teman karna dia sendiri terbuka kepada siapa saja untuk berteman. Andi belum percaya, dia menanyakan sekali lagi dengan gaya bicara lebih lantang dan serius. Dan sekali lagi Nisa juga berkata yang sama, Nisa merasa belum bisa berkomitmen dengan siapa saja dan dari awalpun dia masih ingin konsen pelajaran dan sekolahnya, belum ada niatan ke arah pacaran ataupun cinta. Andi merasa marah… dia bilang kepada Nisa kalau sebenarnya dia putus dengan mantannya karna selalu berpikir tentang nisa. Andi marah karna dia merasa berkorban tapi malah tidak mendapatkan apa yg diinginkannya, Nisa. Andi bilang kepada Nisa, kalau dia tidak bisa berpacaran dengan nisa mungkin tidak untuk berteman juga. Nisa bilang kepada Andi ada alasan lain yang gk bisa dia ceritakan kepada Andi, alasan yg paling kuat, Tia, alasan yang masih dia rahasiakan kepada andi. Andi diam sejenak, dia lalu pergi meninggalkan nisa tanpa sepatah kata. Tapi ada satu hal yang membuat nisa lega, dia jadi tahu kalau andi berhiatan kepada mantannya demi Nisa. Nisa justru sadar nantinya kalau mreka berpacaran mungkin nisa akan ada di posisi seperti mantannya, dihianati oleh cinta yang lain. Dia lega harus memilih jalan ini.

Ketika kembali ke kelas, nisa datang dengan wajah yang lebih berseri dari saat bimbang kemarin. Dia menemui tia dan menceritakan sedetail-detailnya. Tia kaget bukan kepalang, kenapa Nisa menolak Andi padahal Tia sudah rela mreka dekat apalagi berpacaran. Nisa bilang kepada Tia bahwa lebih nyaman bagi dia tidak kehilangan sosok tia yang selama ini nisa kenal, kalaupun tia rela pasti akan berubah terhadap nisa. Tia tiba-tiba memeluk sebentar nisa… dan kemudia memandang nisa.. Dia bilang terima kasih kepada nisa. karna sebenarnya kemarin berat dia berkata seperti itu. Tapi sekarang lebih lega lagi karna dia jadi tahu sosok Andi yang sebenarnya. Mreka pun tertawa lepas bersama. Teman-teman sekelasnya cuman geleng-geleng.

Dan tahu gk? Keseokan hari, Andi mulai mendekati Tia, Andi ingin menjadikan tia pacarnya… Dan dengan tegas Tia berkata “Pergi kau dari hidupku … Playboy!!!”